Sebuah Kisah Yang Tertuai

Hai, kita bertemu lagi. Entah berapa detik , berapa menit, berapa jam, dan berapa lama aku tidak melihat sosokmu. Senyummu masih seperti dulu menawan, tatapanmu melirik tajam, dan juga masih seperti dulu, kau tetap sendiri. Di tempat ini, kisah bodoh itu tertulis. Awalnya biasa, aku hanya (mengagumi) seseorang yang tak ku tau namanya, bahkan tak ku kenal jalan hidupnya. Rasa penasaran yang terus menghantui membuatku menekan tombol huruf di laptop ku, dan mengetikkan namamu di daftar pencarian social media ku. Ternyata namamu mengukirkan sosokmu, unik. Tak mungkin secepat ini aku mengatakan hal itu. Hadirmu secara tak sopan masuk kedalam kekosongan hati ini. Semakin aku menolak perasaan ini, semakin perasaan ini mendobrak pintu hatiku. Aku mengerti, jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang dan manusiawi. Sapaaan hangatmu menyejukan jiwaku, entah mengapa menatapmu saja sudah memberikan kebahagian. Kehadiranmu mengubah warna hidupku. Tawa renyahmu menghantui hari-hariku, dan wajahmu menggantung dalam kesendirian. Simak juga, kisah yang terlewati

Perasaan ini terus bergulir, kugantungkan harapku padamu, pada laki-laki dengan sejuta misteri dan teka-teki. Tak mungkin kau tak merasakan perasaan aneh yang terlalu sering tak kau gubris itu. Aku mengerti tuan, aku tak seperti mereka yang pernah mengisi hari-harimu. Seharusnya kau mengerti, pantaskah wanita yang memulai dahulu? Yang mengatakan puisi,gombalan puitis kepadamu? Ketika wanita lain mendekati mu, aku hanya bisa memejamkan mata dan berharap aku melupakan segalanya. Setiap kau memberikan sapaan hangat tak hanya untuku, aku hanya dapat diam membisu. Karena berdiri dibawah kota langit yang sama denganmu saja adalah anugerah terisitimewa. Kamu terlalu abu-abu. Aku baru saja mencicipi apa itu cinta, namun, tak seindah puisi yang kugantungkan dalam hati untukmu. Terbang melayang membawa sejuta mimpi, tiba-tiba terhempas dalam dunia nyata yang seharusnya tak sepilu ini.

Seharusnya sejak dulu, tak kuperhatikan kau sedetail itu, aku terburu-buru mengartikan cerita ini. Sepertinya aku hanya sebuah persinggahan bukan tujuan. Aku terus menghela napas, berharap takdir berubah. Tuan, hatiku terlalu lelah menebak gerak-gerikmu yang sebenarnya tak tertuju padaku. Aku selalu percaya, cinta adalah reaksi kimia, gabungan feromon, endorphin dan serotonin, dan semakin lama, zat-zat tersebut akan hilang. Seperti gejolak dihati ini semakin lama semakin mereda. Namun, tenanglah kasih, perasaan aneh padamu ini masih terukir dan tak kan sirnah. Semoga ini hanya ketertarikan sesaat, bukan ketertarikan yang semakin lama semakin menyakitkan.

Malam kalbu ini. Hawa dingin merasuk hingga ketulangku, membuat aku menggelora, muak dan benci. Aku mengintip keluar jendela yang dibasahi embun malam. Sebuah selimut dan kain lusuh kugunakan untuk meredakan dinginnya malam ini. Apalagi bisikan hujan bagaikan perintah untuk manusia bodoh sepertiku agar bangkit segera bangkit! Aku tau, setiap malamku selalu diisi dengan ingatan-ingatan abstrak yang tak kunjung pergi. Hujan ini menyimpan banyak tanda tanya, dan beribu jawaban. Bibirku kelu, seperti si bisu yang ingin mengungkapkan namun tak akan pernah bisa, karena isyarat yang ia berikan selalu diabaikan.

Semuanya memang terjadi dengan proses yang begitu cepat, tak perlu banyak teori dan basa-basi. Ketahuilah tuan, aku sudah melawan jutaan kamu, yang menggepul seperti asap rokok direlung hatiku. Namun apa daya? Manusia kecil dan hina seperti ku, tak pernah bisa mengubah rancangan Tuhan. Seandainya pertemuan kita tak pernah terjadi, mungkin aku sama seperti wanita-wanita lain, bahagia tanpa tetes air mata. Realitanya aku masih seperti dulu, masih menaruh harap, masih mendoakanmu dalam bisu, dan mencintaimu dalam diam.

Karena bagiku, memendam lebih menantang. Kau boleh mengatakan aku pecundang tuan, ya, karena aku hanya bisa mengikuti bayangmu bukan sosok nyatamu. Dan aku tak pernah tau, kapan cerita ini berakhir. Aku seperti pemain di atas panggung yang tak tau skenario dan peranku. Andaikan, dalam cerita ini, kau yang berjuang, dan aku yang kau perjuangkan.

Dibalik jendela ini, ketika langit senja diguyur hujan, aku layu dan seakan kaku. Aku baru menyadari, si pecundang takkan pernah bisa membawa sang mentari pulang. Aku tak berhasil merajut mimpi-mimpi indahku bersamamu. Dan akhirnya aku sampai di fase ini, fase dimana aku menjadi yang terlupakan. Karena aku mengerti, aku takkan pernah bisa membirukan senja yang merah. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin bukan? Aku memang tolol, jutaan insan telah melewati alur hidupku. Ya, selalu, tak ada emas menawan yang kuhendaki, karena kamu adalah mutiara, yang jauh lebih berarti dibandingkan mereka semua. Saya bukan robot tuan, apalagi wayang, yang bisa kau permainkan sesuka hatimu! Aku manusia! Aku hanya seorang wanita yang bertahan untuk mentarinya, walau tau mentari itu enggan memberikan berkas cahaya. Semua cerita pasti mempunyai akhir bukan? Akhir cerita ini sungguh jauh dari hasrat di benakku. Dan aku mulai belajar, bahwa cinta tak harus memiliki. Mutiara yang indah tak selalu dapat digenggam. Aku harus menyelesaikan ini semua. Entah mengapa, cinta tatapan muka dan tanpa singgungan ikatan, dapat membuatku setakut ini, takut kehilanganmu. Aku masih bertahan.

Dan itulah sepenggal kisah bodoh yang tertuai di tempat ini. "Selamat Bertemu Lagi Cinta Pertama". Kisah itu terus bergulir tanpa henti dalam hidupku.
Terima kasih kepada Elfrida Ruth Agusinar Sipayung (elfridaruth@gmail.com) yang telah menulis dan mengirim tulisan ini. Semoga sukses selalu.

Belum ada komentar pada artikel "Sebuah Kisah Yang Tertuai"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan sebuah komentar untuk artikel yang sedang anda baca ini. Jika butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya ya atau follow Twitter saya @MF4dhli :)